Curahan Hati Para Pengusaha Sepatu Cibaduyut di Kala Pandemi

  • Bagikan
cibaduyut
Cibaduyut salah satu tempat yang tak asing bagi para pecinta sepatu kulit Lokasi ini wajib kita kunjungi ketika berwisata ke Kota Bandung./ Foto : Istimewa

BANDUNG, ZOZ.MY.ID — Cibaduyut salah satu tempat yang tak asing bagi para pecinta sepatu, khususnya sepatu kulit. Lokasi ini menjadi salah satu opsi yang harus masuk ke dalam bucket list yang wajib kita kunjungi ketika berwisata ke Kota Bandung.

Sebab, sepatu yang merupakan hasil kerajinan tangan masyarakat lokal Bandung ini, memiliki kualitas yang bagus yang tak kalah dengan buatan luar.

Baca juga: Motor Baru Kawasaki, Mesin 250 cc Desain Klasik Mirip Royal Enfield

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun pernah membeli produk sepatu Cibadayut ini.

Namun, ada yang berbeda belakangan ini di kawasan sepatu Cibaduyut Bandung.

Jika masuk dari patung tugu sepatu yang menjadi ciri khas Cibaduyut ke arah jalan Terusan Cibaduyut, biasanya mata kita akan dimanjakan dengan beragam produk sepatu yang berjejer di berbagai etalase, dengan berbagai bentuk dan jenis.

Namun kini, papan spanduk yang berukuruan kira-kira 30×30 cm dan bertuliskan “Dijual atau Dikontrakan”menjadi suguhan pertama yang kita temui.

Kira-kira setiap 100 meter melangkah, akan ditemukan toko atau outlet yang ditutup, lantaran dijual.

Ramli salah satu pengusaha sepatu yang berjualan di sana mengatakan, penutupan toko terjadi sejak pandemi, lantaran banyaknya pengusaha sepatu yang gulung tikar .

Dampak PPKM

Menurut dia, ada puluhan pengusaha tidak sanggup lagi menjalankan usahanya sehingga mau tak-mau harus menutup tokonya.

“Kan biaya sewa toko itu mahal, sementara karena pandemi kemarin, enggak ada pemasukan sama sekali. 2 minggu lebih toko dilarang buka kemarin, kita tidak boleh jualan. Mau bayar pakai apa kemarin mereka untuk sewa toko, lebih dari 20 toko yang tutup lah itu,” ujarnya kepada Kompas.com saat kita temui pada kawasan sepatu Cibaduyut, Senin ( 15/11/2021).

Edah, yang juga pengusaha tersebut sejak 5 tahun yang lalu mengatakan, fenomena ini adalah fenomena terparah yang ia rasakan selama menjadi pengusaha sepatu di sana.

Selama pandemi, mereka akui , sama sekali tidak memiliki penghasilan. “Kalau mereka hitung-hitung pun omzet saya sendiri yah sekitar 60 persen turun,” katanya.

Edah mengatakan, memang ada beberapa pengusaha yang saat ini lebih memilih menutup toko offline-nya dan fokus berahli ke online.

Sementra Harga Kios Naik

Hal ini mengingat biaya sewa toko yang mahal sementara para pengusaha sepatu minim omzet.

“Bayangkan saja, uang sewa toko kan mahal, beragam memang mulai dari Rp 30 jutaan lah setahun. Makanya ada juga yang lebih memilih buka toko di online,” katanya.

Tak sedikit juga Edah mengatakan, para pengusaha sepatu memilih menjadi mitra driver ojek online sebagai penghasilan tambahannya.

Baca juga:Kaos Bir Bintang Berhasil Jadi Ikon Bali, Meski Tak Pernah Rilis Resmi

Sementara dia sendiri, lebih memilih tetap menjalankan usaha offline-nya daripada masuk ke platform online lantaran gagap teknologi alias gaptek.

“Yah memang saya sendiri juga enggak mau belajar juga sih. Ribet, ya udah fokus yang toko (offline) aja dulu,” kata Edah.

Hal serupa juga jamal tuur merasakan, pengusaha sepatu yang sudah berjualan lebih dari 5 tahun.

Jamal mengaku, karena ada pandemi, omzetnya turun hingga 40 persen.

“Apalagi yang kemarin total parah sekali, namun sekarang alhamdulillah sudah mulai membaik,” ungkap Jamal.

Hal tersebut pun, kata dia, membuat produksi sepatunya juga tertahan lantaran tidaknya adanya penjualan sama sekali.

“Kalau toko penjualannya macet, pasti pabriknya pun juga enggak produksi,” kata Jamal. (Yan)

Sumber : Kompas

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *